Factors affecting motivation and retention of primary health care workers in three disparate regions in Kenya
Sri Wiyanti
Health Policy and management
Saya tertarik dengan tulisan dalam jurnal ini yang menceritakan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dan retensi petugas puskesmas di tiga wilayah terpencil di Kenya. hal ini sama dengan kondisi petugas puskesmas di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara.
Dalam jurnal ini di jelaskan beberapa alasan yang memotivasi petugas kesehatan yaitu aspek keuangan, pengembangan karir, melanjutkan pendidikan, infrastruktur fasilitas kesehatan, ketersediaan sumber daya, hubungan dengan manajemen(penghargaan terhadap staf) dan pengakuan pribadi, menjadi faktor yang mempengaruhi Motivasi dan Retensi Petugas.
Strategi yang di ambil berbeda sesuai dengan kondisi wilayah kerja walaupun pada satu Negara yang sama, berbeda dengan di Indonesia; dimana kebijakan yang diambil oleh pemerintah Pusat di samaratakan di seluruh pelosok Negeri ini. Retensi yang umum di pergunakan adalah dengan memberikan insentif pada petugas yang bekerja di pelayanan kesehatan Daerah pedesaan agar tetap bertahan dan bekerja di daerah tersebut tanpa memperhatikan faktor lain yang sangat potensial.
Kesimpulan :
• Temuan dari isu dari masing masing wilayah juga berbeda berdasarkan bukti yang ada oleh karena itu penting bagi pengambil kebijakan dalam menetap kebijakan sesuai kebutuhan daerah masing-masing.
• Isu gender juga menjadi permasalahan karena faktor budaya dimana perempuan lebih di minati masyarakat pada pelayanan ibu dan anak dari pada petugas laki-laki hal ini juga menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan di Kenya dalam rekruitment petugas, selain itu faktor geografis membuat petugas wanita tidak mau di tempatkan di daerah terpencil sehingga berdampak bagi ketersediaan tenaga kesehatan wanita.
• Pendidikan dan pelatihan penting bagi petugas di daerah terpencil, kekurangan tenaga, petugas yang memiliki tugas rangkap dimana mereka merasa tidak memiliki keahlian dalam bidang tersebut.
• Akses terhadap listrik, peralatan dan transportasi ditemukan hal paling penting di Turkana, tidak adanya perumahan, gaji yang kurang., dan keadaan sarana prasarana yang buruk, berkontribusi terhadap lingkungan kerja yang kurang kondusif. Hal ini berdampak pada demotivasi petugas sehingga banyak petugas yang pindah ke layanan swasta karena lebih baik dibandingkan milik pemerintah.
HAL YANG perlu di lakukan oleh pimpinan Puskesmas dan Dinas Kesehatan yaitu dengan :
1. Sistem rekruitmen tenaga perlu di perhatikan dengan memprioritaskan putra Daerah agar terjadi retensi dan sustainability petugas puskesmas.
2. Skema retensi di sesuai kan dengan masing-masing keunikan daerah
3. Kompensasi harus di berikan sesuai dengan kesulitan wilayah termasuk paket perawatan kesehatan keluarga
4. Starategi pengembangan karir harus di perhatikan terutama tenaga dokter
5. Mengembangkan sistem HRH dengan melibatkan LSM
6. Memperhatikan pengembangan karir, gaji dan kebutuhan keluarga (pendidikan dan kesehatan serta jaminan keamanan)
Reading list
Sri Wiyanti
Health Policy and management
'tentang Motivasi dan Retensi petugas kesehatan di layanan Primer daerah terpencil dan pelayanan kesehatan pada umumnya.
1. Motivasi petugas kesehatan di Puskesmas.
dalam referensi ini bercerita hal-hal atau faktor – faktor yang mempengaruhi motivasi dan retensi petugas kesehatan di tempat kerja
• Manongi, R. N., Marchant, T. C., & Bygbjerg, I. C. (2006). Improving motivation among primary health care workers in Tanzania: a health worker perspective. Human Resources for Health, 4, 6.
• Willis-Shattuck, M., Bidwell, P., Thomas, S., Wyness, L., Blaauw, D., & Ditlopo, P. (2008). Motivation and retention of health workers in developing countries: a systematic review. BMC Health Services Research, 8(1), 247.
• Ojakaa, D., Olango, S., & Jarvis, J. (2014). Factors affecting motivation and retention of primary health care workers in three disparate regions in Kenya. Hum Resour Health, 12(33), 1.
• Moosa, S., Pentz, S., Munshi, S., & Mosam, A. (2014). Human Resources for Primary Health Care in Africa-HURAPRIM.
• Strachan, D. L., Källander, K., Nakirunda, M., Ndima, S., Muiambo, A., & Hill, Z. (2015). Using theory and formative research to design interventions to improve community health worker motivation, retention and performance in Mozambique and Uganda. Human resources for health, 13(1), 25.
• Greenspan, J. A., McMahon, S. A., Chebet, J. J., Mpunga, M., Urassa, D. P., & Winch, P. J. (2013). Sources of community health worker motivation: a qualitative study in Morogoro Region, Tanzania. Hum Resour Health, 11(1), 1-12.
• Mutale, W., Ayles, H., Bond, V., Mwanamwenge, M. T., & Balabanova, D. (2013). Measuring health workers' motivation in rural health facilities: baseline results from three study districts in Zambia. Hum Resour Health, 11(8), 10-1186.
• Bonenberger, M., Aikins, M., Akweongo, P., & Wyss, K. (2014). The effects of health worker motivation and job satisfaction on turnover intention in Ghana: a cross-sectional study. Hum Resour Health, 12(43), 10-1186.
2. Supervisi yang supportif pada tenaga kesehatan
Dalam referensi ini menceritakan bagaimana manfaat supervisi terhadap motivasi dan retensi petugas kesehatan.
• Agoro, O. O., Osuga, B. O., & Adoyo, M. (2015). Supportive supervision for medicines management in government health facilities in Kiambu County, Kenya: a health workers' perspective. Pan African Medical Journal, 20(1).
• Källander, K., Strachan, D., Soremekun, S., Hill, Z., Lingam, R., Tibenderana, J., ... & Kirkwood, B. (2015). Evaluating the effect of innovative motivation and supervision approaches on community health worker performance and retention in Uganda and Mozambique: study protocol for a randomized controlled trial. Trials, 16(1), 157.
• Hill, Zelee, et al. "Supervising community health workers in low-income countries–a review of impact and implementation issues." Global health action 7 (2014).
• Ndima, Sozinho D., et al. "Supervision of community health workers in Mozambique: a qualitative study of factors influencing motivation and programme implementation." Human resources for health 13.1 (2015): 63.
3. Dampak Motivasi dan Penempatan kerja pada tenaga kesehatan terhadap kepuasan kerja
Dalam Referensi di bawah ini menjelaskan bagaimana pengaruh penempatan kerja & lingkungan kerja yang berdampak pada kepuasan kerja pada tenaga Kesehatan sehingga membangun motivasi kerja.
• Bonenberger, M., Aikins, M., Akweongo, P., & Wyss, K. (2014). The effects of health worker motivation and job satisfaction on turnover intention in Ghana: a cross-sectional study. Hum Resour Health, 12(43), 10-1186.
• Munyewende, P., Rispel, L. C., & Chirwa, T. (2014). Positive practice environments influence job satisfaction of primary health care clinic nursing managers in two South African provinces. Hum Resour Health, 12, 27.
• Fogarty, L., Kim, Y. M., Juon, H. S., Tappis, H., Noh, J. W., Zainullah, P., & Rozario, A. (2014). Job satisfaction and retention of health-care providers in Afghanistan and Malawi. Hum Resour Health, 12(11).
• Bhatnagar, A. (2014). DETERMINANTS OF MOTIVATION AND JOB SATISFACTION AMONG PRIMARY HEALTH WORKERS: CASE STUDIES FROM NIGERIA AND INDIA.
• Mbaruku, G. M., Larson, E., Kimweri, A., & Kruk, M. E. (2014). What elements of the work environment are most responsible for health worker dissatisfaction in rural primary care clinics in Tanzania?. Human resources for health, 12(1), 38.
• Fayyazi, M., & Aslani, F. (2015). The impact of work-life balance on employees' job satisfaction and turnover intention; the moderating role of continuance commitment.
• Agyapong, V. I., Osei, A., Farren, C. K., & McAuliffe, E. (2015). Factors influencing the career choice and retention of community mental health workers in Ghana. Human resources for health, 13(1), 56.
• Mohammed, Shikur, et al. "Validation of Health Extension Workers Job Motivation Scale in Gamo-Gofa Zone, Southern Ethiopia: A Cross-Sectional Study." International Scholarly Research Notices 2015 (2015).
• Li, L., Zhang, Z., Sun, Z., Zhou, H., Liu, X., Li, H., ... & Coyte, P. C. (2014). Relationships between actual and desired workplace characteristics and job satisfaction for community health workers in China: a cross-sectional study. BMC family practice, 15(1), 180.
• Bonenberger, M., Aikins, M., Akweongo, P., & Wyss, K. (2014). The effects of health worker motivation and job satisfaction on turnover intention in Ghana: a cross-sectional study. Hum Resour Health, 12(43), 10-1186.
4. Hubungan Stakeholder terhadap motivasi Petugas Kesehatan
Dalam Referensi di bawah ini menjelaskan bagaimana peran Stakeholder dalam meningkatkan motivasi Petugas Kesehatan.
• Nkomazana, O., Mash, R., Shaibu, S., & Phaladze, N. (2015). Stakeholders' Perceptions on Shortage of Healthcare Workers in Primary Healthcare in Botswana: Focus Group Discussions. PloS one, 10(8), e0135846.
5. Apa yang dilakukan oleh Manajemen pada tingkat Kabupaten terhadap peningkatan motivasi Tenaga Kesehatan
Dalam Referensi di bawah ini menceritakan bagaimana peran seorang MANAJER dalam memotivasi staff melalui supervisi serta pendekatan LEADERSHIP yang baik berpengaruh terhadap peningkatan Kinerja staf dengan keterbatasan RESOURCES.
• Bonenberger, M., Aikins, M., Akweongo, P., Bosch-Capblanch, X., & Wyss, K. (2015). What Do District Health Managers in Ghana Use Their Working Time for? A Case Study of Three Districts. PloS one, 10(6), e0130633.
• Moosa, S., Mash, B., Derese, A., & Peersman, W. (2014). The views of key leaders in South Africa on implementation of family medicine: critical role in the district health system. BMC family practice, 15(1), 125.
• World Health Organization. (1997). Strategies for the prevention of blindness in national programmes: a primary health care approach. World Health Organization.
• Rowe, A. K., de Savigny, D., Lanata, C. F., & Victora, C. G. (2005). How can we achieve and maintain high-quality performance of health workers in low-resource settings?. The Lancet, 366(9490), 1026-1035.
• Källander, K., Strachan, D., Soremekun, S., Hill, Z., Lingam, R., Tibenderana, J., ... & Kirkwood, B. (2015). Evaluating the effect of innovative motivation and supervision approaches on community health worker performance and retention in Uganda and Mozambique: study protocol for a randomized controlled trial. Trials, 16(1), 157.
Cost and cost-effectiveness of PPM-DOTS for tuberculosis control: evidence from India
Establishing sustainable performance-based incentive schemes: views of rural health workers from qualitative research in three sub-Saharan African countries
Info UGM:
The International Conference on Science and Technology 2015, 11-13 November 2015
http://icst.ugm.ac.id/
Contracting out Program Maternal-Neonatal : Mungkinkah?
Pelayanan kesehatan matenal-neonatal, bisa dilakukan sendiri oleh pemberi pelayanan dari sektor publik/swasta, atau dikontrakkan kepada pihak ke-3 (NGO). Untuk meningkatkan akses, equity, efektifitas dan kualitas layanan kesehatan telah dijalankan sistem kontak pelayanan di berbagai negara, misalnya intervensi masalah HIV, tuberkulosis, imunisasi dan juga pelayanan terhadap kesehatan ibu (Hatcher, Shaikh, Fazli, Zaidi, & Riaz, 2014). Ada beberapa pertimbangan/justifikasi tentang siapakah yang tepat memberikan pelayanan kesehatan maternal-neonatal tersebut. Contracting out adalah elemen penting dari reformasi sektor kesehatan yang dijalankan di beberapa negara, karena dipandang dengan managemen dan regulasi yang tepat dalam hal inovasi pembiayaan/anggaran, untuk meningkatkan performance dan akuntabilitas.
Ada beberapa keuntungan dan hambatan sistem Contracting out sebuah pelayanan kesehatan untuk program spesifik. Berdasarkan penelitian di dua fasilitas pedesaan yang dikontrakkan pemerintah bahwa cost/biaya unit pelayanan kesehatan maternal dan neonatal lebih tinggi, terutama karena underutilization. Analisis biaya penyedia menggunakan pedoman pengobatan standar (STG), layanan berbasis kerangka biaya harus diterapkan di sejumlah fasilitas kesehatan untuk menghitung biaya jasa dan pengembangan berdasarkan bukti insentif sumber daya dan kontrak berbasis panduan kinerja (Sameen, Tayyeb, Masud, & Belgacem, 2006).
Alokasi sumber daya merupakan tantangan terbesar dari sistem kesehatan yang lemah. Anggaran pemerintah sebagian besar dianggarkan tanpa perhitungan biaya jasa untuk pemberi layanan kesehatan (Hatcher et al. , 2014).
Keputusan sebuah pelayanan kesehatan menggunakan sistem kontrak atau tidak, ada beberapa cara pandang, antara lain:
· Penalaran rasional
· Realisme pragmatis
· Mempromosikan keanekaragaman penyedia layanan
· Bermanfaat/baik untuk kotamadya
· Bermanfaat/baik untuk orang-orang lokal (Tynkkynen, Lehto, & Miettinen, 2012) .
Pada review–study oleh (xingzhu Liu, et all, 2007), efektivitas Contracting out pada pelayanan primer di 9 negara berkembang, memang terbukti bahwa sistem tersebut memperbaiki aksees, sedangkan efek pada dimensi kinerja lain seperti ekuitas, kualitas dan efisiensi sering tidak diketahui. Selain itu, sedikit yang diketahui dari efek sistem kontrak, yang bisa positif atau negatif. Meskipun hasil penelitian meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana kontrak-out dapat digunakan sebagai alat kebijakan untuk meningkatkan kinerja sistem kesehatan secara keseluruhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Contracting out bisa diimplementasikan dan model intervensi yang cenderung sangat mempengaruhi peluang untuk berhasil.
Melihat berbagai berbagai pertimbangan tersebut di atas, maka dianggap perlu improvisasi Contracting out pada program ante natal care, terutama untuk wilayah yang cakupannya luas, sulit dijangkau dan sumber daya terbatas, tetapi mempunyai anggaran yang cukup. Pada perencanaan awal sudah diperhitungkan cost untuk jasa pemberi pelayanan. Untuk meningkatkan efektifitas biaya, menggunakan pedoman pengobatan standart . Refferensi : Hatcher, P., Shaikh, S., Fazli, H., Zaidi, S., & Riaz, A. (2014). Provider cost analysis supports results-based Contracting out of maternal and newborn health services : an evidence-based policy perspective. BMC Health Services Research, 14(459), 1–8. http://doi.org/10.1186/1472-6963-14-459
Liu, X. , Hotchkiss, D. R. & Bose, S. , 2007. The effectiveness of contracting-out primary health care services in developing countries: a review of the evidence. Health Policy and Planning, 23(1), pp. 1–13. Available at: http://www. heapol. oxfordjournals. org/cgi/doi/10. 1093/heapol/czm042.
Loevinsohn, B. & Harding, A. , 2005. Buying results? Contracting for health service delivery in developing countries. Lancet, 366(9486), pp. 676–68033027(06), pp. 867–876.
Siddiqi, S. , Masud, I. & Sabri, B. , 2006. Contracting but not without caution : experience with outsourcing of health services in countries of the Eastern Mediterranean Region. ,
Tynkkynen, L. -K. , Lehto, J. , & Miettinen, S. (2012). Framing the decision to contract out elderly care and primary health care services – perspectives of local level politicians and civil servants in Finland. BMC Health Services Research, 12(1), 1–12. http://doi. org/10. 1186/1472-6963-12-201
Susilaningsih
Contracting out Program Maternal-Neonatal : Mungkinkah?
Pelayanan kesehatan matenal-neonatal, bisa dilakukan sendiri oleh pemberi pelayanan dari sektor publik/swasta, atau dikontrakkan kepada pihak ke-3 (NGO). Untuk meningkatkan akses, equity, efektifitas dan kualitas layanan kesehatan telah dijalankan sistem kontak pelayanan di berbagai negara, misalnya intervensi masalah HIV, tuberkulosis, imunisasi dan juga pelayanan terhadap kesehatan ibu (Hatcher, Shaikh, Fazli, Zaidi, & Riaz, 2014). Ada beberapa pertimbangan/justifikasi tentang siapakah yang tepat memberikan pelayanan kesehatan maternal-neonatal tersebut. Contracting out adalah elemen penting dari reformasi sektor kesehatan yang dijalankan di beberapa negara, karena dipandang dengan managemen dan regulasi yang tepat dalam hal inovasi pembiayaan/anggaran, untuk meningkatkan performance dan akuntabilitas.
Ada beberapa keuntungan dan hambatan sistem Contracting out sebuah pelayanan kesehatan untuk program spesifik. Berdasarkan penelitian di dua fasilitas pedesaan yang dikontrakkan pemerintah bahwa cost/biaya unit pelayanan kesehatan maternal dan neonatal lebih tinggi, terutama karena underutilization. Analisis biaya penyedia menggunakan pedoman pengobatan standar (STG), layanan berbasis kerangka biaya harus diterapkan di sejumlah fasilitas kesehatan untuk menghitung biaya jasa dan pengembangan berdasarkan bukti insentif sumber daya dan kontrak berbasis panduan kinerja (Sameen, Tayyeb, Masud, & Belgacem, 2006).
Alokasi sumber daya merupakan tantangan terbesar dari sistem kesehatan yang lemah. Anggaran pemerintah sebagian besar dianggarkan tanpa perhitungan biaya jasa untuk pemberi layanan kesehatan (Hatcher et al. , 2014).
Keputusan sebuah pelayanan kesehatan menggunakan sistem kontrak atau tidak, ada beberapa cara pandang, antara lain:
· Penalaran rasional
· Realisme pragmatis
· Mempromosikan keanekaragaman penyedia layanan
· Bermanfaat/baik untuk kotamadya
· Bermanfaat/baik untuk orang-orang lokal (Tynkkynen, Lehto, & Miettinen, 2012) .
Pada review–study oleh (xingzhu Liu, et all, 2007), efektivitas Contracting out pada pelayanan primer di 9 negara berkembang, memang terbukti bahwa sistem tersebut memperbaiki aksees, sedangkan efek pada dimensi kinerja lain seperti ekuitas, kualitas dan efisiensi sering tidak diketahui. Selain itu, sedikit yang diketahui dari efek sistem kontrak, yang bisa positif atau negatif. Meskipun hasil penelitian meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana kontrak-out dapat digunakan sebagai alat kebijakan untuk meningkatkan kinerja sistem kesehatan secara keseluruhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Contracting out bisa diimplementasikan dan model intervensi yang cenderung sangat mempengaruhi peluang untuk berhasil.
Melihat berbagai berbagai pertimbangan tersebut di atas, maka dianggap perlu improvisasi Contracting out pada program ante natal care, terutama untuk wilayah yang cakupannya luas, sulit dijangkau dan sumber daya terbatas, tetapi mempunyai anggaran yang cukup. Pada perencanaan awal sudah diperhitungkan cost untuk jasa pemberi pelayanan. Untuk meningkatkan efektifitas biaya, menggunakan pedoman pengobatan standart . Refferensi : 1. Loevinsohn, B. & Harding, A. , 2005. Buying results? Contracting for health service delivery in developing countries. Lancet, 366(9486), pp. 676–68033027(06), pp. 867–876.
2. Siddiqi, S. , Masud, I. & Sabri, B. , 2006. Contracting but not without caution : experience with outsourcing of health services in countries of the Eastern Mediterranean Region. ,
3. Liu, X. , Hotchkiss, D. R. & Bose, S. , 2007. The effectiveness of contracting-out primary health care services in developing countries: a review of the evidence. Health Policy and Planning, 23(1), pp. 1–13. Available at: http://www. heapol. oxfordjournals. org/cgi/doi/10. 1093/heapol/czm042.
4. Tynkkynen, L. -K. , Lehto, J. , & Miettinen, S. (2012). Framing the decision to contract out elderly care and primary health care services – perspectives of local level politicians and civil servants in Finland. BMC Health Services Research, 12(1), 1–12. http://doi. org/10. 1186/1472-6963-12-201
5. Hatcher, P., Shaikh, S., Fazli, H., Zaidi, S., & Riaz, A. (2014). Provider cost analysis supports results-based Contracting out of maternal and newborn health services : an evidence-based policy perspective. BMC Health Services Research, 14(459), 1–8. http://doi.org/10.1186/1472-6963-14-459


