Indigenous health : A role for private general practice for Aboriginal and Torres Strait Islander people in Autralia

Saya tertarik dengan model atau kolaborasi antara private sector dengan Majellam Medical center (MMC) dalam menyediakan "Delivery Of Health Care Bagi Penduduk Aborigin di Autralia.

Strategi yang digunakan cukup sederhana yaitu :
1. Bulk billing for all indigenous patients (by agreeable 
    doctors)

2. One session each week ('the clinic') specifically for    

    indigenous patients (usually with RPJ), and

3. A bus to the clinic (bus provided by Redcliffe

   Community Association, petrol subsidised by    

     MBGPN, volunteer driver from the community).


Jika Model MMC dapat diterapkan, akan memudahkan tugas manejer puskesmas. Tugas Manajer Puskesmas disini melakukan supervisi dan pengawasan setiap minggu terhadap meeting yang dilakukan oleh MMC dan mengevaluasi masyarakat yang hadir berdasarkan data pasien di puskesmas.




Info UGM:
The International Conference on Science and Technology 2015, 11-13 November 2015
http://icst.ugm.ac.id/

Assessment of users’ expectations, perceived quality and satisfaction with primary care in Greece

Pengantar : 
Berdasarkan penelitian saya sebelumnya " Delivery of primary health care to persons who are socio-economically disadvantaged : does the organizationaldelivery model matter?" maka dokter memegang peran utama dalam pelayanan primer, walau pun perawat dan tenaga kesehatan yang lain tidak kalah penting. Kecenderungan kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Model kapitasi-insentif bagi dokter hanya sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh manajer di perawatan primer. Berikut terdapat beberapa uraian mengenai beberapa faktor yang dapat digunakan oleh manajer agar pelanggan mendapatkan kepuasan dalam layanan kesehatan di perawatan primer.

Assessment of users' expectations, perceived quality and satisfaction with primary care in Greece

Menurut Anderson et al . (2001 ) dalam penelitian kualitatif, mereka mengidentifikasi beberapa dimensi perawatan primer seperti:

  1. akses
  2. staf kantor
  3. privasi
  4. empati, mendengarkan, menghormati
  5. keterampilan penyedia
  6. koordinasi perawatan
  7. lingkungan.

Banyak faktor yang  mempengaruhi kepuasan  pengguna, termasuk organisasi   dan  lingkungan  perawatan ( Gadallah et al , 2003), waktu tunggu ( Aldana dkk , 2001), harapan pelanggan sendiri ( Anderson et al , 2001; Jung et al , 2002), kompetensi dan pribadi karakteristik dokter ( Margolis et al ,2003; Schattne et al, 2004 ; Groenewegen et al ,2005).

Analisis faktor yang diperlukan adalah

1.      kompetensi teknis dan interpersonal perawat

2.      kompetensi interpersonal dokter

3.      kompetensi teknis dokter

4.      karakteristik struktur.

 

Pelanggan mengharapkan lebih diperhatikan oleh dokter dalam menjelaskan perawatan medis dan memberikan saran yang memadai serta bersedia menjawab pertanyaan pelanggan. Pelanggan merasa dianggap lebih penting, manusiawi dan dilindungi oleh hukum dalam penanganan perawatannya. Pelanggan mengenali peran katalitik dokter di perawatan primer. (Probst, 1997). Pelanggan lebih puas dengan kompetensi dokter. Pelanggan Yunani lebih memperhatikan rasa hormat dan kesopanan dokter (Aldana et al, 2001; Schattner et al, 2004). Selanjutnya kemanusiaan sangat dinilai (Margolis, 2003). Di Emirates pelanggan kurang puas dengan kesinambungan perawatan berlawanan dengan pelanggan dari Yunani. Hal ini dapat dikaitkan dengan sikap pengguna Yunani untuk mengunjungi dokter lain untuk mencari pendapat kedua sehingga tidak memungkinkan kesinambungan dari perawatan yang diberikan.

 

Menurut Jung et al . (2002 )   pelanggan  menemukan  pentingnya  hubungan  dokter-pelanggan  dan system informasi , seperti menjaga kerahasiaan dan  menjelaskan tujuan tes dan perawatan.    Dalam penelitian ini, kerahasiaan dinilai kurang penting dibandingkan dengan aspek-aspek lain dari perawatan yang diberikan. Salah satu yang bisa menjadi penjelasan pelanggan Yunani kurang sensitif dengan kerahasiaan data medis mereka baik karena mereka yakin itu dijamin  atau  mereka menganggap   itu adalah tugas profesional dokter bertindak di Yunani. Di faktor organisasi, sisi lain seperti keramahan dari fasilitas pelayanan kesehatan primer dinilai sebagai  kurang penting  ( Jung et al, 2002).   Secara umum   para   pelanggan   merasa puas dengan   lingkungan fisik   dari  pengaturan perawatan primer (Aldana et al, 2001). Beberapa aspek dari perawatan primer dievaluasi menjadi sangat penting  meskipun aspek-aspek tersebut dievaluasi buruk (Jung et al, 2002). Misalnya, pelanggan yang sangat tidak puas dengan konsistensi dokter dengan waktu janji karena mereka harus menunggu lama untuk dokter (Aldana et  al, 2001).  Meskipun   pelanggan   diharapkan untuk   diperlakukan   tepat   waktu, pada  kenyataannya tidak memenuhi harapan mereka (Aldana et al, 2001).
Dapat disimpulkan bahwa membedakan harapan pelanggan dan pentingnya evaluasi   dari kepuasan mereka. Salah satu penjelasan untuk varians ini bisa jadi pengguna Yunani percaya bahwa perawatan yang mereka   terima bukan   dari kualitas tertinggi.   Jika   mempertimbangkan kesenjangan   antara harapan pengguna dan peringkat pentingnya skor kepuasan sebagai kualitas perawatan  primer maka aspek perawatan yang dinilai lebih penting dan sebagai  lebih expectable, dievaluasi,   kemudian bila perlu ditingkatkan dengan baik. Lebih   tepatnya   desain ulang perawatan primer di Yunani harus didasarkan pada bidang-bidang berikut: 
a.       kepentingan 
b.      dokter tidak boleh terburu-buru selama pemeriksaan 
c.       tepat waktu dalam pemeriksaannya. 
Pelanggan   perawatan   primer membuat penilaian yang mempengaruhi   kepuasan   mereka   dengan perawatan yang diberikan, dengan   membandingkan perawatan yang   sebenarnya dengan apa yang mereka anggap sebagai kualitas perawatan. Temuan ini dapat dikaitkan dengan perbedaan budaya. 
 

Menurut Anderson et al. (2001) perempuan cenderung untuk menilai dari perspektif pengalaman. Dengan demikian, harapan mereka didasarkan pada kenyataan bukan preferensi ideal. Di Yunani, pelanggan perempuan sering mempertahankan titik kritis layanan perawatan primer (Raftopoulos, 2005). Sifat psikometrik dari E-PQ-SPCSS yang cukup baik menunjukkan bahwa pengukuran keandalan dan memadai untuk perbandingan kelompok. Sehingga tujuan khusus penelitian ini, untuk mengembangkan kuesioner yang handal dan valid yang akan berguna sebagai indikator konsumen dalam rutinitas praktek klinis dapat terpenuhi.

 

Kesimpulan :

Kepuasan pasien dengan kualitas pelayanan primer merupakan konsep dominan dalam jaminan kualitas dan program peningkatan kualitas. Dengan cara mengeksplorasi harapan pelanggan, kualitas yang pelanggan rasakan dan kepuasan pelanggan dengan layanan perawatan primer. Penilaian harapan pengguna, persepsi kualitas dan kepuasan dengan perawatan primer di Yunani

adalah penting untuk mendesain ulang dan perbaikan layanan dalam perawatan primer.

Raftopoulos V. Assessment of users ' expectations , perceived quality and satisfaction with primary care in Greece. Int J. 2010;3(3):110-121.

Refference

  • Aldana J, Piechulek H, & Al-Sabir A. (2001). Client satisfaction and quality of health care in rural Bangladesh. Bulletin of the World Health Organization 79:512–517.
  • Anderson R.T, Barbara A.M, Weisman C, Scholle S.H, Binko J, Schneider R, Freund K, Gwinner V. A (2001). Qualitative Analysis of Women's Satisfaction with Primary Care from a Panel of Focus Groups in the National Centers of Excellence in Women's Health.Journal of Women's Health & Gender-based Medicine 10(7):637-647.
  • Gadallah M, Zaki B, Rady M, Anwer W, Sallam I. (2003). User satisfaction with primary health care services in two districts in Lower and Upper Egypt. Eastern Mediterranean Health Journal  9(3):422-430.
  • Groenewegen P, Kerssens J, Sixma H, van der Eijk I, BoermaW. (2005). What is important in evaluating health care quality? An international comparison of user views. BMC Health Services Research 5:16
  • Jung H. P, Wensing M, Olesen F. Grol R. (2002). Comparison of patients' and general practitioners' evaluations of general practice care. Qual. Saf. Health Care 11:315-319.
  • Margolis S, Al-Marzouqi, S, Revel T, Reed R. (2003). Patient satisfaction with primary health care services in the United Arab Emirates. International Journal for Quality in Health Care. 15(3): 241-9. 

 

 

Defi Monicha (KMPK 2014)


Task Shifting for Scale-Up of HIV Care

Good topic. Bagaimana manajer mengelola task shifting? Manajer fasilitas kesehatan dapat menerapkan insentif atau pembayaran kerja sesuai performance based.

Community involvement in tuberculosis control lessons from other health care programmes



Planning the resilient city: Concepts and strategies for coping with climate change and environmental risk

Sangat menarik bagaimana kepala puskesmas berperan aktif dalam program kota sehat siap bencana. Seperti di Jakarta, gubernurnya merelokasi rumah-rumah penduduk dari pinggir sungai agar jika terjadi hujan lebat, kota itu tidak terjadi banjir. Apa yang mungkin disiapkan oleh manajer terkait dengan persiapan bencana? Topik yang bagus..

A survey on patient safety culture in primary healthcare services in Turkey

NAMA : RAHMAN


Paper ini menekankan 4 inisiatif yang kepala puskesmas bisa lakukan untuk membangun patient safety culture: learning organization, team work, communication openness, dan management support

Patient  safety merupakan suatu sistem yang membuat asuhan pasien difasilitas layanan kesehatan menjadi lebih aman. patient safety adalah suatu pencegahan bahaya yang disebabkan oleh kesalahan dan kelalaian  oleh provider (pemberi layanan) (Bodur & Filiz 2009).

Menurut hemat pikir saya, medical error yang terjadi di Puskesmas dapat diatasi dengan management yang baik. Oleh karena itu, sebagai seorang leader, perlu mengembangkan sistem patient safety untuk menjamin keselamatan pasien dan citra layanan kesehatan menjadi tidak menuurn di hadapan masyarkat. Berikut kami sajikan beberapa peran seorang manajer dalam bentuk manajemen praktis di puskesmas agar staf atau petugas layanan kesehatan bisa memberikan pelayanan yang bermutu dan menjamin keselamatan pasien:

a.        Learning organization (Bodur & Filiz 2009);(Nabilah et al. 2014)

1.         Setiap pagi, staf atau petugas kesehatan di absen dan wajib mengikuti apel pagi dan melalui itu kepala puskesmas memberikan motivasi kerja

2.        Mengumpulkn semua stafnya kemudian memberikan pencerahan tentang masa depan atau mengundang orang yang kredibel untuk memberikan motivasi baru

3.        Setiap rapat Memeriksa setiap pelaporan intenal dan eksternal terkait dengan dengan insiden.

4.        Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan workshop yang kontinyu untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf.

5.        Membuat program diklat yang kontinyu dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik tentang keselamatan pasien

b.        Teamwork unit (Bodur & Filiz 2009);(Manser 2009);(Flin et al. 2009)

Pendekatan ini lebih dikenal dengan holism manager, dimana peran manajer adalah memberikan semangat kepada staf atau petugas kesehatan untuk selalu kompak dan bergandengan tangan untuk mencapai tujuan organisasi.

Melakukan koordinasi dengan antar unit dan antar pengelolah pelayanan dengan base practice seperti  puskesmas berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan dinas kesehatan dengan rumah sakit untuk mempersiapkan segala intervensi yang dibutuhkan oleh pasien gawat darurat yang dirujuk dari puskesmas. Contoh: ibu hamil yang beresiko dideteksi melalui layanan antenatal, sebaiknya puskesmas sudah melaporkan ibu hamil yang risti, sehingga pada proses kelahirannya nanti kejadian yang tidak diinginkan dapat diatasi.

memberdayakan masyarakat. Base practice: merangkul kader-kader kesehatan termasuk dukun untuk bermitra, bukan menjadikan mereka sebagai rival dalam melayani masyarakat dengan cara dukun dan kader kesehatan diberikan pendidikan dan pelatihan.

c.         Communication openness (Bodur & Filiz 2009);(Nieva & Sorra 2003)

1.      Saat rapat, staf diberikan hak untuk menyuarakan pikiran-pikiran mereka dan mendengarkan keluhan- keluahn mereka untuk dicarikan solusinya secara bersama-sama

2.      Manajer puskesmas selalu mengarahkan kepada tenaga kesehatan dalam setiap pertemaun, agar dalam pemberian layanan perlu menjelaskan kepada pasien maksud dan tujauan dilakukan pengobatan (dalam hal ini perlunya inform consent)

3.      Membangun diskusi: menciptakan diskusi dalam tim dengan membentuk grup untk mendiskusikan pengalaman dari hasil analisis

4.      Jika penanggung jawab pasien (dalam hal ini dokter) memberikan mandat untuk memberikan perawatan kepada pasien. Maka si penanggung jawab tersebut harus memberikan informasi yang jelas kepada  tenaga kesehatan yag diberikan mandat

d.      Management support (Arslan et al. 2015);(Nabilah et al. 2014)

1.      Mencipatkan lingkungan kerja yang kondusif: seperti melakukan rehabiliitasi ruangan pelayanan

2.      Memberikan pujian kepada staf yang dianggap bekerja  dngan baik dengan cara memberikan reward sebagai bentuk apresiasi manajer kepada bawahnnya agar bawahnnya yang lainnya bisa memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya

3.      Memberikan teguran yang keras dan jika perlu punishmant kalau ada staf yang lalai dalam melakukan pekerjaannya.

 

Reading List

Arslan, S. et al., 2015. Patient safety culture of health professionals. Gaziantep Medical Journal, 21(2), p.1.

Bodur, S. & Filiz, E., 2009. A survey on patient safety culture in primary healthcare services in Turkey. , 21(5), pp.348–355.

Flin, R., Winter, J. & Cakil Sarac, M.R., 2009. Human factors in patient safety: review of topics and tools. World Health, (April), p.2.

Manser, T., 2009. Teamwork and patient safety in dynamic domains of healthcare: a review of the literature. Acta Anaesthesiologica Scandinavica, 53(2), pp.143–151.

Nabilah, H. et al., 2014. Do we communicate openly in healthcare delivery ? International Journal of Current Research and Academic Review, 1(1), pp.30–37.

Nieva, V.F. & Sorra, J., 2003. Safety culture assessment: a tool for improving patient safety in healthcare organizations. Qual Saf Health Care, 12 Suppl 2, pp.ii17–23.

A process evaluation of performance-based incentives for village health workers in Kisoro district, Uganda

•Miller, J.S. et al., 2014. A process evaluation of performance-based incentives for village health workers in Kisoro district, Uganda. Human resources for health, 12(1), p.19. Available at: http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=3986447&tool=pmcentrez&rendertype=abstract.