Ruminah - Kebijakan dan Manjemen Pelayanan Kesehatan - Universitas Gadjah Mada
Referensi
Wahyuni , C. U., Rahariyani, L. D., Sulistyowati, M., Rachmawati, T., Yuliwati, S., & van der Werf, M. J. (2007). Obstacles for optimal tuberculosis case detection in primary health centers (PHC) in Sidoarjo district, East Java, Indonesia. BMC health services research, 7( 1), 135.
Bhunu , C. P., & Mushayabasa, S. (2012). Assessing the effects of poverty in tuberculosis transmission dynamics. Applied Mathematical Modelling, 36( 9), 4173-4185.
Pada tahun 1993, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tuberkulosis (TB) sebagai darurat kesehatan global, dan penyakit menular ini menjadi ancaman kesehatan dengan menjadi penyebab utama kematian pada usia dewasa muda. Penyebaran TB terus terjadi diseluruh dunia, meskipun sudah tersedia strategi yang sudah diterapkan diseluruh dunia dan diakui secara internasional yaitu Pengobatan Tuberculosis dengan strategi DOTS, suatu strategi yang digunakan untuk mengendalikan epidemi. Strategi DOTS, yang diperkenalkan pada tahun 1991 oleh WHO, adalah strategi yang dapat mencegah jutaan kasus dan kematian oleh TB (Bhunu, C. P & Mushayabasa, S.2012). Strategi ini merekomendasikan deteksi kasus secara pasif, diagnosis dengan mikroskop smear dan pengobatan kasus yang telah terdeteksi dengan cepat. Deteksi kasus menular tuberkulosis merupakan komponen penting dari pengendalian TB. Dengan deteksi dini kasus infeksi penularan TBC di masyarakat dapat dibatasi. Selanjutnya, deteksi dini kasus meningkatkan kesempatan bahwa mereka dapat diobati dengan sukses. (Wahyuni , C. U et.al 2007 ).
Kasus TB telah diperburuk oleh pandemi HIV / AIDS dan Munculnya MTB (TB yang resistan terhadap obat). Infeksi HIV sangat meningkatkan kemungkinan bahwa seseorang terinfeksi MTB akan menjadi TB aktif, karena itu merusak sistem kekebalan tubuh. Meskipun terapi yang sangat efektif yang telah menyelamatkan nyawa manusia sudah tersedia, tetapi TB terus berkembang. Penyebaran TB di negara maju dan berkembang sangat tidak merata dan kemiskinan adalah faktor penyebab utama. Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan absolut sebagai hidup pada satu dolar Amerika Serikat atau kurang per orang per hari. Bank Dunia juga mengakui bahwa kemiskinan meliputi kerentanan terhadap permasalahan, dan kurangnya kesempatan dan kemampuan . Orang miskin kekurangan ketahanan terhadap pangan, pendapatan, dan akses ke air, sanitasi dan pelayanan kesehatan( Bhunu, C. P., & Mushayabasa, S. 2012).
Walaupun Indonesia sudah mengadopsi strategi DOTS pada tahun 1995 dalam upaya pengendalian TB, tetapi kenyataannya pencapaian penemuan kasus di beberapa daerah masih belum sesuai target yang telah ditentukan oleh WHO yaitu 70%, seperti penelitian yang dilakukan di 25 Puskesmas di wilayah kerja Kabupaten Sidoarjo penemuan kasus baru TB pada tahun 2003 hanya sebesar 14%.
Kesimpulan dari penelitian di Puskesmas Kabupaten Sidoarjo adalah bahwa Kualitas proses diagnostik untuk TB di Puskesmas harus ditingkatkan pada semua tingkat. Pelatihan dalam pengendalian TB untuk semua perawat umum dan teknisi laboratorium yang belum menerima pelatihan akan menjadi langkah pertama yang baik untuk meningkatkan diagnosis TB dan untuk meningkatkan tingkat deteksi kasus (Wahyuni, C. U et.al 2007 )
Masih rendahnya temuan kasus baru menunjukkan bahwa infeksi TB di masyarakat masih relatif tinggi dan program ini belum fokus pada upaya untuk memotong rantai infeksi. Pusat Kesehatan masyarakat dengan strategi DOTS dioperasikan oleh standar staf kesehatan yang terlatih yang dikenal sebagai tim TB Puskesmas. Tim TB tidak memanfaatkan alat manajemen di Pusat kesehatan Masyarakat dalam upaya untuk memecahkan masalah kasus TB dengan temuan rendah. Evaluasi pencatatan dan pelaporan tidak dilakukan dengan baik karena hanya digunakan sebagai persyaratan administratif program, tidak sebagai bahan untuk menganalisa kemajuan program. Evaluasi dan monitoring yang dilakukan oleh kepala puskesmas belum baik sehingga informasi kasus TB masih terbatas pada masalah staf TB. Pengawas kabupaten tidak memainkan peran sebagai pelatih dalam menanggulangi masalah yang ada. Mereka tampaknya hanya memprioritaskan pada masalah administrasi program global dan dana. Penelitian ini mengambil kesimpulan bahwa pemanfaatan manajemen puskesmas dalam upaya untuk meningkatkan penemuan cakupan kasus TB di puskesmas belum optimal ( Bakhtiar, Rahmat,et al (2014).
Upaya peningkatan penemuan kasus baru TB melalui pendekatan berbasis masyarakat dan dengan Pelaksanaan strategi DOTS dalam Program Pengendalian TB di daerah terpencil dan di daerah miskin dengan penduduk yang padat masih sangat sulit dilakukan, hal ini disebabkan karena masih kurangnya tenaga kesehatan, remunerasi yang buruk untuk tenaga kesehatan dan masih rendahnya motivasi kerja dari tenaga kesehatan. Selain itu status gizi juga mempunyai peranan sangat penting terhadap proses penularan penderita TB. Dengan gizi yang buruk menyebabkan kekebalan tubuh yang rendah dan seringnya kontak dengan penderita akan meningkatkan kemungkinan terinfeksi TB. (Lei, X., Liu, Q.at al (2015).
Naidoo, P., Dick, J., & Cooper, D. (2009). Exploring tuberculosis patients' adherence to treatment regimens and prevention programs at a public health site. Qualitative Health Research, 19( 1), 55-70.
Hadley, M., & Maher, D. (2000). Community involvement in tuberculosis control: lessons from other health care programmes . The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease, 4( 5), 401-408.
Lei, X., Liu, Q., Escobar, E., Philogene, J., Zhu, H., Wang, Y., & Tang, S. (2015). Public–private mix for tuberculosis care and control: a systematic review. International Journal of Infectious Diseases, 34, 20-32.
Bakhtiar, Rahmat, Hari Kusnanto, and Barmawi Hisyam. "The utilisation of health centre management by tuberculosis team in the effort to increase case finding." BMC Public Health 14.1 (2014): 1-1.
No comments:
Post a Comment